^Back To Top

logo

Pengunjung

Today86
Yesterday154
Week575
Month4071
All73791

Powered by Kubik-Rubik.de

Link Terkait

Polling

Menurut anda apa yang perlu ditingkatkan dari kinerja Kejaksaan?

Pelayanan Aparat Kejaksaan - 0%
Penanganan Perkara - 0%
Pengembalian Kerugian Negara - 0%
Program Pembinaan Masyarakat Taat Hukum - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: 28 Dec 2015 - 04:06
BERBURU RUMAH MAKAN INDONESIA DI TIONGKOK

BERBURU RUMAH MAKAN INDONESIA DI TIONGKOK

Disela-sela mengikuti The 22ND Annual Conference And General Meeting Of The International ...

MENGUNJUNGI MASJID JUJUKAN PRESIDEN RI DI BEIJING

MENGUNJUNGI MASJID JUJUKAN PRESIDEN RI DI BEIJING

Disela-sela mengikuti The 22ND Annual Conference And General Meeting Of The International ...

BERGURU TILANG CCTV DI BEIJING

BERGURU TILANG CCTV DI BEIJING

     Pada 11-15 September 2017 ini saya mendapat kesempatan berkunjung ke Beijing, Tion...

EFEK TILANG CCTV, BANJIR UNDANGAN LIVE

EFEK TILANG CCTV, BANJIR UNDANGAN LIVE

 Sejak akhir Agustus 2017 lalu, selama dua pekan, saya mendapat tambahan job baru. Tampil...

Disela-sela mengikuti The 22ND Annual Conference And General Meeting Of The International Association Of Presecutors di Beijing 11-15 September 2017 lalu, saya menyempatkan diri berburu rumah makan Indonesia di Tiongkok. Maklum selama konferensi lidah saya belum bisa sepenuhnya menerima menu lokal. Jadi selalu kangen rawon dan pecel.

 

 

Hasil perburuan, ternyata tidak banyak orang yang menjual makanan asli Indonesia di daratan Tiongkok. Lebih banyak rumah makan Thailand atau Malaysia. Saya hanya menemukan dua rumah makan Indonesia di Beijing dan satu  rumah makan di Shanghai.

 

Disela-sela mengikuti The 22ND Annual Conference And General Meeting Of The International Association Of Presecutors di Beijing, saya menyempatkan diri berkunjung ke Masjid Niu Jie. Masjid yang pernah dikunjungi dua presiden RI ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok. Yaitu presiden Gus Dur pada tahun 2000 dan Jokowi pada Mei 2017.

  

     Sejak dari tanah air, saya sudah sangat penasaran dan ingin mengunjungi masjid tertua dan terbesar di Beijing itu. Maka, ketika hari Rabu (13/9) kebetulan jadwal konferensi selesainya tidak sampai sore hari, saya langsung "cao" (jalan) menuju distrik Xuanwu, Beijing tempat masjid itu berdiri.

  

     Pada 11-15 September 2017 ini saya mendapat kesempatan berkunjung ke Beijing, Tiongkok. Kebetulan saya ditunjuk sebagai salah satu delegasi Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) dalam The 22ND Annual Conference And General Meeting Of The International Association Of Presecutors. 

 

     Disela-sela acara konferensi para Jaksa Se-dunia itu saya sempatkan untuk "berguru" tilang CCTV di negeri panda. Saya ingin membawa "oleh-oleh" pengetahuan sistem tilang CCTV dari Beijing. Sekedar untuk pembanding penerapan tilang CCTV di Surabaya yang saat ini sedang diujicoba. 

 

 Sejak akhir Agustus 2017 lalu, selama dua pekan, saya mendapat tambahan job baru. Tampil live di beberapa studio TV dan siaran radio. Plus puluhan sesi wawancara media cetak dan online.  Ada apa gerang? 

 

     Semua gara-gara Tilang CCTV.  Kabar penerapan tilang berdasarkan bukti foto itu memang viral di Surabaya.  Banyak broadcast di medsos yang macam-macam infonya. Biasa, ada yang dibumbui. Dilebih-lebihkan. 

    

Mesin fax di Kantor siang itu, 21 Agustus 2017 berdering.  Sebuah surat perintah dari Jaksa Agung Muda Pembinaan diterima untuk Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya. Isinya agar Kejari Surabaya ikut sebagai peserta pameran gerakan revolusi mental, Indonesia melayani di Surakarta, 25-27 Agustus 2017 yang akan dibuka Presiden Joko Widodo.

 

 

     Setelah menerima Surat Perintah itu segera saya kumpulkan semua Kasi. Rapat mendadak. "Ini kita mendapat amanah dari pimpinan dipercaya mewakili kejaksaan dalam pameran inovasi pelayanan publik. Kita harus tampil maksimal,"kata saya saat membuka rapat.

 

 

Subcategories

Copyrigcht © 2016 Kejaksaan Negeri Surabaya