^Back To Top

logo

Pengunjung

Today127
Yesterday96
Week127
Month1323
All80203

Powered by Kubik-Rubik.de

Link Terkait

Polling

Menurut anda apa yang perlu ditingkatkan dari kinerja Kejaksaan?

Pelayanan Aparat Kejaksaan - 0%
Penanganan Perkara - 0%
Pengembalian Kerugian Negara - 0%
Program Pembinaan Masyarakat Taat Hukum - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: 28 Dec 2015 - 04:06
PERINGATAN HARI ANTI KORUPSI INTERNASIONAL (HAKI) TAHUN 2017 KEJAKSAAN NEGERI SURABAYA

PERINGATAN HARI ANTI KORUPSI INTERNASIONAL (HAKI) TAHUN 2017 KEJAKSAAN NEGERI SURABAYA

Pada hari Jumat tanggal 8 Desember 2017 Kejaksaan Negeri Surabaya melaksanakan upacara per...

Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri Surabaya menerima penghargaan dari Walikota Surabaya

Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri Surabaya menerima penghargaan dari Walikota Surabaya

Pada hari Jum`at tanggal 10 Nopember 2017 bertempat di Kantor Walikota Surabaya, Tim Penga...

Upacara Bendera Memperingati Hari Pahlawan ke-72 Kejari Surabaya

Upacara Bendera Memperingati Hari Pahlawan ke-72 Kejari Surabaya

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2017 Kejaksaan Negeri Surabaya melak...

BERBURU RUMAH MAKAN INDONESIA DI TIONGKOK

BERBURU RUMAH MAKAN INDONESIA DI TIONGKOK

Disela-sela mengikuti The 22ND Annual Conference And General Meeting Of The International ...

Disela-sela mengikuti The 22ND Annual Conference And General Meeting Of The International Association Of Presecutors di Beijing, saya menyempatkan diri berkunjung ke Masjid Niu Jie. Masjid yang pernah dikunjungi dua presiden RI ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok. Yaitu presiden Gus Dur pada tahun 2000 dan Jokowi pada Mei 2017.

  

     Sejak dari tanah air, saya sudah sangat penasaran dan ingin mengunjungi masjid tertua dan terbesar di Beijing itu. Maka, ketika hari Rabu (13/9) kebetulan jadwal konferensi selesainya tidak sampai sore hari, saya langsung "cao" (jalan) menuju distrik Xuanwu, Beijing tempat masjid itu berdiri.

  

 

     Saya tidak sendiri.  Kajati Sumut Dr. Bambang Sugeng Rukmono yang memimpin delegasi Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) juga ikut. Ditemani dua orang Jaksa dari Bagian Kerjasama luar negeri Kejagung yaitu Jaksa Prinuka dan Virgaliano.  Plus dipandu seorang guide bernama Agris.

  

     Sore itu kami  menyewa sebuah mobil MPV. Dari hotel North Garden tempat kami menginap menuju masjid ternyata butuh perjuangan melawan macet. Meski jaraknya tidak lebih 20 KM, hampir dua jam kami baru sampai di Masjid yang dibangun tahun 996 itu.

  

     Selama perjalanan, Agris yang fasih bahasa Tiongkok bercerita selama ini banyak rombongan dari Indonesia yang datang ke Beijing mampir sholat ke masjid Niu Jie. "Bisa dikatakan masjid ini jujukan orang Indonesia yang berkunjung ke Beijing" kata Agris.

  

     Agris juga menjelaskan kalau nama Niu Jie dalam bahasa setempat artinya jalan sapi. Sejarahnya dulu sampai sekarang  di jalan sekitar masjid itu banyak orang berjualan daging halal yaitu daging sapi dan kambing. Akhirnya Masjid itu lebih terkenal dengan nama Niu Jie.

  

     Selama perjalanan saya buka-buka HP saya. Mencoba bertanya lebih lengkap kepada "mbah google" tentang masjid Niu Jie. Ternyata nama asli masjid itu seperti dikutip dari Wikipedia adalah Libaisi. Nama yang berikan Kaisar Chenghua tahun 1474.

  

     Berdasarkan catatan sejarah  pertama kali masjid Niu Jie dibangun pada tahun 996 oleh dinasti Liao (916-1125). Namun pernah dihancurkan tentara Mongol tahun 1215, dan dibangun kembali tahun 1443 oleh Dinasti Ming.

  

     Masjid Libaisi eh...Nui Jie mengalami beberapa kali renovasi. Pertama diperluas saat dinasti Qing tahun 1696. Lalu selama berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tahun 1949 mengalami tiga kali renovasi. Yaitu tahun 1955, 1979 dan 1996.

  

     Kembali cerita kedatangan kami ke masjid Niu Jie. Saya dan rombongan ketika sampai lokasi masjid  persis setelah sholat jamaah magrib selesai. Jadi saya dan rombongan memutuskan untuk sholat berjamaah sendiri.

  

     Ketika mengambil wudhu saya ketemu satu WNI pegawai Kementrian Kehutanan bernama Junaidi dan temannya satu warga Malaysia. Keduanya ternyata juga sedang diundang meeting masalah "hutan" oleh pemerintah Tiongkok. Akhirnya kami sholat berjamaah berlima.

 

      Kami menjamak sholat Isya sekalian setelah sholat magrib. Usai sholat saya baru keliling melihat lebih dekat seluruh bangunan Masjid. Ternyata tempat sholat jamaah laki-laki dan perempuan dipisah bangunan yang berbeda.

 

      Saya melihat arsitektur dan dekorasi masjid di dalam ruangan dominan warna merah khas Tiongkok dengan segala ukir-ukiran tradisional Tiongkok. Begitupun bentuk luar bangunan terlihat perpaduan antara seni bangunan Tiongkok-Islam.

  

     Sembil menunggu sholat Isya di dalam masjid saya lihat ada dua kelompok  jamaah yang belajar "ngaji". Semua jamaah itu kelihatan usianya sudah "sepuh" (tua). Mereka tiga orang duduk melingkar menghadap satu orang.

  

     Perasaan saya satu orang itu yang berbicara sambil menjelaskan isi sebuah buku tulisan huruf tiongkok itu mungkin ustadznya. Kalau di tempat saya di masjid-masjid Surabaya itu seperti ceramah singkat. Terkenal dengan sebutan Kultum. Kuliah tujuh menit.

  

      Saya tidak berani mengganggu mereka yang serius belajar ngaji. Maka saya hanya bisa keliling foto-foto bangunan masjid. Apalagi Agris yang menemani kami kebetulan tidak masuk di dalam masjid. Maklum dia non muslim.

 

      Sebenarnya, saya bukan tidak berani mengganggu mereka. Jujur saja saya tidak bisa berkomunikasi dengan mereka. Kami tidak ada yang bisa sepatah kata pun bahasa Tiongkok. Dan seperti kebanyakan warga Tiongkok jarang yang bisa bahasa Inggris. Kalaupun saya berani tanya, emangnya ngerti kalau mereka menjelaskan he he....

  

     Hanya saja bagi saya ada satu hal yang menarik berdirinya masjid Niu Jie di kota Beijing ini. Ditengah-tengah rakyat Tiongkok yang mayoritas komunis, ternyata masih terdapat warga yang beragama. Dan masih boleh melaksanakan ibadah.

  

     Di Beijing, ternyata cukup banyak warga muslim. Saat ini seperti yang ditulis kantor berita Antara saat menulis kunjungan Jokowi ke Masjid Niu Jie, di Beijing ada sekitar 250 ribu warga Muslim. Kebanyakan tinggal di sekitar Masjid Niu Jie.

  

     Dan satu lagi hal yang menarik bagi saya dengan berdirinya masjid Niu Jie di Beijing. Ada sejarah panjang dulu Islam bisa masuk ke daratan Tiongkok. Didalam komplek masjid terdapat dua buah makam pembawa Islam ke Tiongkok. Yaitu pendakwah dari persia Ahmad Burdani (1320) dan Ali (1283).

 

       Perkembangan Islam saat itu abad 14 di Tiongkok memang pesat. Bahkan pedagang-pedagang muslim Tiongkok itu pada abad ke-15 sudah melakukan hubungan dagang di Nusantara.

 

      Ada catatan sejarah mereka mendarat di Lasem, Jawa Tengah dan di Palembang. Ada juga cerita laksamana Cheng Ho yang muslim mendarat di Nusantara.

 

      Di Akhir tulisan ini saya kalau melihat masjid Niu Jie jadi teringat dengan masjid Cheng Ho yang ada Surabaya. Ukiran kayu dan kaligrafinya sama-sama dipengaruhi arsitektur khas Tiongkok. Juga ada sentuhan desain Arab. Ada beberapa kemiripan.

  

     Jadi nanti kalau saya suatu saat kangen sholat di Masjid Niu Jie sebagai "tombo kangen" saya akan berkunjung saja ke masjid Cheng Ho di Surabaya he he.(kang DF).

 

 

 

Copyrigcht © 2016 Kejaksaan Negeri Surabaya