^Back To Top

logo

Pengunjung

Today127
Yesterday96
Week127
Month1323
All80203

Powered by Kubik-Rubik.de

Link Terkait

Polling

Menurut anda apa yang perlu ditingkatkan dari kinerja Kejaksaan?

Pelayanan Aparat Kejaksaan - 0%
Penanganan Perkara - 0%
Pengembalian Kerugian Negara - 0%
Program Pembinaan Masyarakat Taat Hukum - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: 28 Dec 2015 - 04:06
PERINGATAN HARI ANTI KORUPSI INTERNASIONAL (HAKI) TAHUN 2017 KEJAKSAAN NEGERI SURABAYA

PERINGATAN HARI ANTI KORUPSI INTERNASIONAL (HAKI) TAHUN 2017 KEJAKSAAN NEGERI SURABAYA

Pada hari Jumat tanggal 8 Desember 2017 Kejaksaan Negeri Surabaya melaksanakan upacara per...

Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri Surabaya menerima penghargaan dari Walikota Surabaya

Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri Surabaya menerima penghargaan dari Walikota Surabaya

Pada hari Jum`at tanggal 10 Nopember 2017 bertempat di Kantor Walikota Surabaya, Tim Penga...

Upacara Bendera Memperingati Hari Pahlawan ke-72 Kejari Surabaya

Upacara Bendera Memperingati Hari Pahlawan ke-72 Kejari Surabaya

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2017 Kejaksaan Negeri Surabaya melak...

BERBURU RUMAH MAKAN INDONESIA DI TIONGKOK

BERBURU RUMAH MAKAN INDONESIA DI TIONGKOK

Disela-sela mengikuti The 22ND Annual Conference And General Meeting Of The International ...

Disela-sela mengikuti The 22ND Annual Conference And General Meeting Of The International Association Of Presecutors di Beijing 11-15 September 2017 lalu, saya menyempatkan diri berburu rumah makan Indonesia di Tiongkok. Maklum selama konferensi lidah saya belum bisa sepenuhnya menerima menu lokal. Jadi selalu kangen rawon dan pecel.

 

 

Hasil perburuan, ternyata tidak banyak orang yang menjual makanan asli Indonesia di daratan Tiongkok. Lebih banyak rumah makan Thailand atau Malaysia. Saya hanya menemukan dua rumah makan Indonesia di Beijing dan satu  rumah makan di Shanghai.

 

 

    

 

 Ketika di Beijing saya menemukan rumah makan "Nom Nom" dan Resto Padang. Karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat makan di Nom-Nom di daerah Liu Dao Kou, distrik Hai Dian.  Sementara Resto Padang yang berada daerah San Li Tun di distrik Chao Yang, saya hanya sempat lewat saja.

 

 

Rumah makan Nom-nom menempati sebuah komplek ruko. Tempatnya kecil di hanya bisa menampung maksimal 20 orang. Kalau di Indonesia lebih cocok disebut depot. Karena kelasnya diatas warung, tapi dibawah rumah makan.

  

Di kalangan WNI di Beijing depot Nom-nom sangat terkenal. Terutama mahasiswa asal Indonesia. Dapat dipastikan mereka pernah makan di sana. Maklum disamping enak, harga makanan di Nom Nom cocok dengan kantong mahasiswa. Lebih murah daripada Resto Padang

 

 

Saya dan rombongan tahu tempat itu juga karena info sang guide kami, Agris. WNI yang baru saja lulus dari University Of International Business And Economics (UIBE) Beijing. Dia dan teman-teman kuliahnya asal Indonesia adalah pelanggan tetap rumah makan Nom Nom.

 

 

Saat saya dan rombongan delegasi Persatuan jaksa Indonesia (PJI) tiba di depot Nom Nom sekitar jam 16.00. Ternyata tempatnya penuh. Ada sekitar 12 mahasiswa lokal (Tiongkok) selesai menikmati makanan. Begitu saya dan rombongan mau masuk mereka tahu diri dan langsung "bubar".

 

 

Bagi saya dan rombongan begitu ketemu masakan Indonesia rasanya langsung nafsu. Bisa dibilang "kemaruk".  Semua menu yang ada langsung dipesan untuk makan bareng-bareng. Mulai dari Soto ayam, bala-bala, ayam geprek, ayam kremes, sampai cap jai dipesan.

 

 

Rumah makan khas Indonesia itu ternyata dikelola suami istri pasangan gado-gado asal Indonesia dan Singapura. Si istri namanya Cicik bersuamikan warga negara Singapura. Mereka bersatu padu mengelola rumah makan itu. Mereka dibantu dua adik Cicik dari Indonesia. Pasangan itu sehari-hari turut memasak dan melayani pembeli.

 

 

Saat kami makan, datang sepasang mahasiswa. Si cowok tampang Indonesia sementara si Cewek tampang Lokal. Benar, si cowok rupanya mahasiswa S2 asal Bandung lagi nraktir pacarnya yang asli Mongolia. Saya godain mereka, "Lagi pamer masakan Indonesia ya Mas,"kata saya  sambil ketawa.

 

 

Setelah makan di Nom-Nom kami sempatkan lihat Resto Padang. Karena habis makan, saya tidak mampir karrna masih kenyang. Hanya lewat saja. Tempatnya lebih berkelas dibanding Nom-nom. "Yang makan disini orang kelas menengah atas atau businessman yang sedang meeting," kata Agris.

 

 

Perburuan rumah makan khas Indonesia kembali saya lakukan ketika mampir ke kota Shanghai. Ya, kebetulan kami memilih pulang ke Jakarta lewat rute Beijing-Shanghai-Jakarta. Kami pengin merasakan kereta "cepat" Beijing-Shanghai.

 

 

Meski hanya sehari di Shanghai, saya dan rombongan langsung menanyakan tempat rumah makan khas Indonesia. Dengan bekal info dari google saya menemukan alamat Rumah makan Bali distro. Ya namanya memang Bali bukan Indonesia Distro. Mungkin pemilihan brand ini karena Bali lebih terkenal dibanding Indonesia.

 

 

Melihat rumah makan Bali Distro ini, menurut saya sudah katagori kelas Restoran papan atas. Lumayan mewah dan ikonik. Di dalamnya banyak dipajang benda-benda antik se-indonesia. Tapi paling dominan benda-benda khas Bali. Sesuai namanya.

 

 

Di lantai bawah khusus digunakan untuk cafe Bali namanya. Sementara untuk tempat makan ada di lantai dua. Saat naik tangga lantai dua saya melihat foto dan tanda tangan mantan presiden SBY ditempel di dinding Bali Distro. Saya tidak tahu apakah tanda tangan itu "diteken"  saat peresmian atau saat Pak SBY mampir makan disini.

 

 

Makan di Bali distro suasana memang dibuat se-Indonesia mungkin. Musik yang diputar juga lagu-lagu Indonesia. Ada suara padi, Dewa 19, Coklat, Pinkan Mambo dan semua lagu band terkenal Indonesia diputar terus non stop sampai Resto tutup.

 

 

Soal menu? Wow....semua masakan Indonesia ada. Lengkap. Mulai dari yang populer di Jawa: soto ayam, sate, pecel, nasi uduk, nasi goreng, gado-gado, penyetan, mi godok, lontong sayur, tahu telor, ote-ote, bakwan jagung. Khas bali: ayam atau bebek betutu, empek-empek Palembang atau Batagor Bandung tersedia. Ayo mau pesan semua lagi? Ngga lah he he.

 

 

     Semua pegawai di Bali Distro yang perempuan berkebaya. Yang laki-laki pakai pakaian Bali. Ada pegawai lokal, tapi mayoritas mahasiswa Indonesia yang kuliah di Shanghai ambil part time. Sehingga penampilan pelayan Bali Distro sangat terpelajar.

 

 

"Saya asal Wonogiri, saat ini menempuh S1 disini. Sengaja kalau malam ada waktu kosong saya ikut kerja di Bali Distro," kata Suprobo Dewi ketika mengantar pesanan makanan kami sambil menjelaskan tiga temannya yang malam itu kerja juga semuanya mahasiswa.

 

 

Dari Suprobo Dewi itu saya tahu informasi kalau malam sebelumnya Bali Distro penuh tamu. Ada rombongan 40 Polisi Indonesia yang sedang studi banding ke Shanghai. "Tempat ini jujukan dan tempat berkumpulnya WNI yang berada di Shanghai,"jelas Suprobo.

 

 

Bagaimana rasa masakan Bali Distro? Wow...semuanya enak. Semua yang kami pesan  habis tidak tersisa. Bahkan kami tambah pesanan untuk dibungkus. Di Bawa ke Hotel. Untuk apa? Untuk sarapan pagi. Kemaruk memang di negeri orang ketemu makanan Indonesia he he (Kang DF)

Copyrigcht © 2016 Kejaksaan Negeri Surabaya